Home     Topics     Audio     Video       Get Code       Store   Donate     Newest     Top 30     Magazine     Tell Friends     Contact   
September 09,2010  at 03:15 AM
             
 
Main Menu
 
  Main menu


Home
Search
Who are we?
Translation Project
Bible Study Guide
iTunes
Amazon's Kindle
Get Code
Online Store
iPhone Version
Audio Teachings
Video Teachings
Get Involved
Get to know Jesus
YouTube.com
MySpace.com
Facebook.com
Twitter.com
Magazine
Online Magazine
Top 30 Articles
Articles by Date
Articles by Topic
Find a Fellowship
Calendar of Events
Tell your Friends
Links
Donate
Contact Us
How to use
Add to Favorites!

 

 
All Topics
 
  Untitled Document

Choose from one of our many Topics




 

 
Check us out on:
 
  Untitled Document



 

 
Articles in Other Languages
 
  Untitled Document

Select a language

If you would like to help translate articles, please contact us.
 

 
Get Code!
 
  Untitled Document

Banners, blocks, and buttons for your site.

Easy copy and paste code

 

Untitled Document


Apakah yang dikatakan Alkitab tentang “Perjamuan Kudus”?

Pertanyaan: Saya bingung dengan apa yang disebut “Perjamuan Kudus” oleh banyak gereja. Mengapa terdapat begitu banyak perbedaan dalam cara melakukannya? Beberapa gereja menggunakan roti, yang lain memakai hosti; beberapa memakai anggur, yang lain memakai jus anggur; beberapa melakukannya setiap hari, yang lain mengadakannya setiap minggu, setiap tahun dsb. Apakah kata Alkitab tentang ini?

Saya sangat senang Anda bertanya, karena ini adalah salah satu dari pokok yang saya sukai, terutama karena ini sangat praktis. Anda akan mengerti maksud saya ketika saya menjawab tentang hal ini juga dalam pertanyaan yang diajukan. Seperti biasanya dalam Tanya-Jawab, jawaban saya yang agak singkat dan sering merupakan ringkasan alkitabiah dan ungkapan sehari-hari dikembangkan dalam buku Christian Educational Services dan/atau rekaman kaset. Dalam hal ini, kaset berdurasi 90 menit yang berjudul Eat, Drink and Remember.

Tampaknya mengapa upacara dengan roti dan anggur disebut “perjamuan” kudus berasal dari 1 Korintus 10:16, ”Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?” Kata Yunani yang diterjemahkan dengan “perjamuan” adalah koinonia, dan artinya pembagian menyeluruh. Dalam bahasa Inggris, kita dapat melihat bahwa kata “perjamuan” melambangkan “persekutuan dengan” yaitu kesatuan, dan itu adalah yang paling penting, seperti yang akan kita lihat.

Pertama-tama, tidak peduli elemen apa yang dipakai oleh sebuah gereja atau seberapa sering mereka melakukan itu, atau sebutan apa yang dipakai, hal yang umum adalah orang yang ikut mengambil bagian makan dan minum sesuatu. Mari kita mengikuti jalurnya dalam Alkitab, dimulai dalam Matius 4, di mana Yesus dicobai oleh Iblis. Yesus belum makan selama 40 hari, dan Iblis mencobai Dia untuk mengubah batu menjadi roti dan memakannya. Yesus menjawab, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan.”

Perhatikan! Ada metafora alkitabiah di sini yang membandingkan percaya kepada Firman Tuhan dengan makan. Pikirkanlah – menerima Firman Tuhan yang tertulis ke dalam pikiran Anda hingga Anda bertindak berdasarkan Firman Tuhan itu sama halnya dengan memasukkan makanan dan minuman ke dalam tubuh Anda. Ada banyak contoh dari persamaan lambang ini dalam Alkitab, misalnya: ”Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu” (Mazmur 34:9); ”Umat-Ku ... meninggalkan Aku, sumber air yang hidup” (Yer. 2:13 a); ”Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yesus dalam Yohanes 4:34). Satu contoh yang akan kita selidiki secara lebih terperinci adalah ”Akulah roti hidup” (Yoh. 6:35).

Sekarang mari pikirkan tentang apa artinya makan atau minum. Bayangkanlah: Anda dan coklat, Anda dan tahu, Anda dan sekantung kripik, apa saja. Apakah pilihan Anda? (1) Berjalan pergi, dan menerima manfaat atau konsekuensi dari memakan dan mencernanya. (2) Masukkan ke dalam mulut Anda, mengunyahnya, dan mengeluarkannya kembali, sekali lagi menerima manfaat atau kerugian dari makanan itu. (3) Mengunyah dan menelannya, menerima manfaat atau konsekuensi dari makanan itu.

Manakah dari ketiga hal di atas yang menurut Anda merupakan tindakan komitmen total? Ya, nomor tiga. Perut memompa, ketika Anda menelan sesuatu, dan sejak itu Anda menjadi ”satu” dengan makanan tersebut. Siapakah yang menciptakan makanan dan minuman? Benar, Tuhan yang menciptakan. Apakah Anda suka makan dan minum? Apakah Tuhan membuat sesuatu yang lezat untuk dimakan dan diminum? Lezat! Apakah yang terjadi jika Anda tidak makan dan minum? Benar, Anda meninggal. Pernahkah Anda memperhatikan bahwa sebagian besar orang mengerti hal itu, dan berbuat apa saja untuk memperoleh makanan dan air? Banyak tawanan perang dilaporkan memakan serangga, ular, kemasan “makanan” pesawat, dsb, hanya untuk bertahan hidup.

Oleh karena itu, bagaimana jika Tuhan membuat semua makanan yang perlu dimakan agar untuk mempertahankan hidup terasa tidak enak? Kita tetap akan memakannya juga, bukan? Tentu, karena pilihan yang lain adalah mati, dan kita diprogram untuk berusaha mempertahankan hidup. OK, jadi kol Brussel adalah suatu mutasi dari kol, tetapi betapa menakjubkan dari Tuhan untuk membuat yang secara mutlak kita harus lakukan agar dapat bertahan hidup menjadi hal yang suka kita perbuat!

Apakah menurut Anda bahwa pernyataan terakhir memiliki relevansi dengan masalah rohani? Tentu saja. Mempercayai Firman Tuhan mutlak diperlukan untuk memperoleh kelahiran kembali dan memiliki hidup yang kekal, dan percaya serta taat adalah mutlak dibutuhkan untuk hidup kita hari ini dan untuk upah yang akan kita terima ketika Tuan Yesus datang kedua kali. Dan berjalan dengan Tuhan dan Tuan adalah nikmat! Tidak ada yang lebih memuaskan dari pada mentaati Tuhan dan melihat Dia menepati janji-Nya kepada kita.

Baiklah, kembali ke Alkitab – Yohanes 6. Dalam ayat 1-15, inilah yang terjadi: Yesus berada dalam rombongan piknik di mana semua orang lupa membawa bekal makan siang. Yesus memakai kesempatan ini untuk memberikan pertanyaan kepada murid-murid-Nya, Dia bertanya kepada mereka apakah yang dapat mereka perbuat untuk memberi makan orang banyak yang diperkirakan berjumlah 5000 orang laki-laki. Mereka gagal, dan berkata, ”Tidak mungkin.” Seorang anak membawa lima ketul roti dan dua ekor ikan kecil, tetapi tanpa saus tartar.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya agar menyuruh semua orang duduk di rumput. Dia mengambil roti dan ikan, mengucap syukur kepada Tuhan, dan memecah-mecahkan roti isi ikan kepada semua orang – sebanyak yang mereka kehendaki! Dan mereka juga membawa bekal pulang ke rumah!

“MAKAN SEPUASNYA!” Apakah Anda pernah melihat tulisan ini di sebuah papan petunjuk atau spanduk di luar sebuah restoran? Apakah kata-kata itu pernah membuat Anda terdorong untuk membanting kemudi dan pergi ke tempat itu? Saya sendiri, suka dengan kata-kata itu, dan dengan sedih saya berkata bahwa saya tidak ada bersama beberapa rekan pemain bola pada malam (sekitar 40 tahun lalu) di mana pada akhirnya mereka diusir dari sebuah restoran yang dengan ceroboh memajang janji itu di atas pintu masuk.

Namun bagaimana jika Anda melihat kata-kata itu, masuk ke dalam restoran tersebut, dan menemukan bahwa mereka menyajikan perabotan? Meskipun dengan dibubuhi saus tomat Heinz, sebuah meja sulit untuk dimakan. Tidak, Anda menginginkan MAKAN SEPUASNYA adalah sesuatu yang lezat. Hanya ada satu yang dapat membuat itu menjadi lebih baik, dan hal itu adalah jika diberikan secara gratis juga. Jika Anda menemukan restoran seperti itu, apakah Anda akan kembali? Dan bagaimana jika ketika Anda datang kembali, Anda menemukan bahwa mereka sudah pindah? Apakah Anda akan menyerah dan pergi ke Mc Donald saja? Saya kira tidak.

Bagaimana jika Anda berada di tengah orang banyak yang diberi makan oleh Yesus? Apakah mereka tidak memperoleh semua makanan yang lezat, makanan gratis? Dan itulah sebabnya, ketika mereka menyadari bahwa sumber penyediaan makanan mereka pindah ke sisi danau yang lain, mereka naik ke perahu dan pergi mencari Dia (Yoh. 6:24 dst). Ketika mereka menemukan Yesus, Dia berkata kepada mereka, ”Aku tahu mengapa kalian mencari Aku – bukan karena kalian melihat mukjizat yang Aku perbuat, tetapi karena kalian menginginkan makanan yang lebih enak, makanan gratis – makan sepuasnya.”

Lalu kemudian, seperti yang sering dilakukan-Nya, Yesus memakai situasi yang ada untuk mengajarkan kebenaran rohani. Dia berkata, “Jangan bekerja hanya untuk memperoleh makanan bagi hidup jasmani kalian, tetapi bekerjalah untuk makanan yang memberikan hidup yang kekal kepada kalian.” Mereka berkata, “Apakah itu?” Dia menjawab, “Pekerjaan itu adalah percaya kepada-Ku sebagai Orang yang diutus Tuhan.” Sekarang perhatikanlah ini – dalam ayat 30 mereka bertanya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu?” Dan ayat 31 berkata, “Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun.”

Berbicara tentang pengendalian diri – bagaimana Yesus dapat menahan diri tidak menjawab dengan sesuatu seperti, “Maaf, bukankah kalian adalah orang yang sama yang ada pada saat piknik? Menurut kalian dari manakah datangnya roti isi ikan itu? Bagaimanakah Aku harus memperjelasnya untuk kalian?” Namun Dia menjawab, pada intinya, ”Manna yang diberikan Musa menunjuk kepada Aku. Akulah roti yang sesungguhnya dari Tuhan.” Orang banyak masih tetap berpikir bahwa Dia berbicara mengenai makanan jasmani, dan menjawab, ”Baiklah, kami akan memakannya.”

Lalu, dalam ayat 35, Yesus dengan jelas menggambarkan analogi serupa dengan apa yang kita lihat dalam Matius 4:4. Dia berkata, ”Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Tidak lama setelah itu (ayat 51-58), Dia mengulangi lagi bahwa Dia adalah roti dari Tuhan, dan bahwa barangsiapa yang ”makan daging-Nya” dan ”minum darah-Nya” suatu hari kelak memperoleh hidup kekal. Penyelidikan terhadap budaya Ibrani menunjukkan bahwa ungkapan yang digunakan Yesus (”makan daging-Nya, dsb”) menunjuk kepada mempercayai perkataan seseorang.

Bukankah sampai hari ini kita masih memakai gaya bicara yang serupa? Tentu saja. Apakah yang dapat Anda katakan untuk menggambarkan minat seorang pendengar kepada sebuah pembicaraan? “Dia sungguh meminumnya” atau “Dia memakannya.” Kita memakai gambaran itu karena berkenaan dengan makanan dan minuman. Misalnya, tidak dapat dikatakan Anda “makan” jika Anda tidak memasukkan es krim ke dalam mulut Anda melainkan menempelkannya di dahi Anda. Demikian pula, tidak dapat dikatakan bahwa Anda ”mencernanya” jika pendengar itu melayangkan pandangannya ke luar jendela, bergumam sendiri, dsb. Kuncinya adalah mengambil sesuatu untuk diri sendiri.

Apakah murid-murid yang bersama Yesus pada waktu piknik sama dengan murid-murid yang hadir ketika Dia mengadakan “perjamuan terakhir”? Ya. Apakah mereka mengerti analogi antara makan dan minum dan percaya kepada perkataan Yesus? Ya. Dan, dengan memakai gambaran ini, apakah yang Yesus katakan ketika pertama kali Dia mengambil roti? “Roti ini (secara metafora – melambangkan”] tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu. Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Melakukan apa? Makan. Dan cawan: “Minumlah sebagai peringatan akan Aku.”

Pertanyaan yang harus diajukan sekarang apakah pada waktu perjamuan itu Yesus mengajukan sebuah upacara ritual agar diamati oleh pengikut-Nya? Jika demikian, agak janggal karena Dia tidak memberikan pedoman kepada kita dan tidak memberitahukan seberapa sering kita harus melakukannya. Di akhir perjamuan itu, saya rasa Dia berkata, ”Setiap kali kalian makan dan setiap kali kalian minum, pikirkanlah Aku dan ingatlah apa yang Aku perbuat bagi kalian.” Dan saya akan menunjukkan betapa praktis hal itu.

Suatu penyelidikan tentang Gereja abad pertama menunjukkan bahwa salah satu praktik yang mereka ikuti adalah mengadakan “Perjamuan Kasih.” Perkumpulan orang percaya ini diadakan untuk beberapa tujuan, di mana yang paling utama adalah untuk persekutuan. Betapa menyenangkan jika makan makanan yang lezat bersama sahabat-sahabat, terutama pada saat Anda sedang santai. Saat makan yang menyenangkan ini juga merupakan suatu kesempatan untuk orang-orang percaya makan, minum dan dengan cara itu mereka mengingat apa yang dikerjakan Yesus bagi mereka melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Lebih jauh lagi, Perjamuan kasih diadakan sebagai suatu program kesejahteraan bagi orang-orang Kristen yang miskin. Mereka yang dapat menyediakan makanan yang banyak, bisa membawanya, dan hal itu menolong orang yang miskin.

Dan di dalam konteks 1 Korintus 11:17-34, sebuah bagian yang sering disalahmengerti. Ingatlah bahwa surat pertama kepada orang-orang Korintus dipenuhi dengan teguran tentang banyaknya kesalahan dalam praktik rohani mereka, dan bagian terakhir dari pasal 11, berfokus pada penyimpangan mereka terhadap ”Perjamuan Tuhan”. Ayat 20-22 secara khusus menunjuk kepada sifat mementingkan diri sendiri, kerakusan, dan kemabukan pada pertemuan ini. Ayat 23-26 mengulangi apa yang dikatakan Yesus pada saat perjamuan-Nya yang terakhir bersama murid-murid, dan hal ini dicatat secara jelas dalam ayat 25 di mana teks Yunani tertulis, ”.... perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku.”

“Cara yang tidak layak” dalam ayat 27 menunjuk kepada praktik yang salah yang dilakukan dalam ayat 20-22, dan dalam ayat 29, “Tubuh Tuan” menunjuk kepada Gereja, orang-orang percaya. Hampir tidak dapat dipercaya, ayat 30 menunjukkan bahwa orang-orang yang rakus dan menolak beberapa orang yang lemah dan miskin sudah sangat merajalela sehingga beberapa orang percaya benar-benar mati, tampaknya karena salah makan. Paul menasihati orang-orang Kristen untuk melakukan disiplin internal dalam hal ini, dan menutup pasal itu dengan berkata bahwa jika orang tidak dapat berlaku dengan tepat pada Perjamuan Kasih, sebaiknya mereka tinggal di rumah saja.

Di dalam memberikan instruksi-Nya pada waktu Perjamuan Tuan, apakah Yesus sungguh-sungguh menunjukkan upacara yang dilakukan setiap hari, minggu, bulan atau tahun dengan memakan hosti dan gelas-gelas kecil? Saya kira tidak demikian. Saya menjelaskan bahwa Dia mendorong para pengikut-Nya untuk mengingat Dia kapan saja mereka makan atau minum. Dalam budaya itu, roti dan anggur adalah dua bahan utama, oleh karena itu Dia memilih roti dan anggur sebagai makanan dan minuman. Sebagai catatan, bukanlah suatu dosa jika berpartisipasi dalam upacara ”perjamuan.” Sebenarnya, hal itu dapat menjadi sangat berarti, tetapi mari pikirkan betapa praktis hal itu untuk mengingat Tuan (dan apa yang sudah Dia perbuat, Dia lakukan dan akan perbuat untuk kita) setiap kali kita makan atau minum.

Sebagai orang Kristen, tujuan kita adalah untuk mempraktikkan kehadiran Tuan Yesus dalam hidup kita, membuat Dia bagian dari apa pun yang kita perbuat. Sebaliknya, tujuan Setan dalam kesibukan sehari-hari adalah mengalihkan pikiran kita dari Tuhan dan Kristus. Doa yang teduh dan saat membaca Alkitab adalah hal yang penting, tetapi hal itu tidak selalu dapat dilakukan dalam suatu hari. Sering kali, tampaknya, “hidup” menyita waktu kita. Saya tidak tahu tentang Anda, tetapi sering kali dalam hidup saya pikiran saya sudah dialihkan dari hal-hal tentang jalan Tuhan. Namun apakah pernah sesuatu dicuri dari pikiran saya yang berkenaan dengan makanan? Apakah Anda bercanda? Ketika saya menghabiskan sarapan pagi saya, saya berpikir, “Bagaimana dengan makan siang saya?” Berapa banyakkah pikiran dan aktivitas kita setiap hari berputar di sekitar makanan dan minuman? SANGAT BANYAK!

Banyak orang Kristen berhenti sejenak untuk bersyukur sebelum mereka makan, dan itu adalah waktu berhenti sejenak yang menyegarkan. Bagaimana jika, melalui prinsip penggabungan pikiran yang sudah terbukti, kita menjadikan itu sebagai suatu kebiasaan untuk memikirkan dan/atau bersyukur kepada Tuhan kapan saja kita makan sebuah permen di tempat istirahat di jalan bebas hambatan atau berhenti di tempat minum umum? Menurut Anda apakah dalam waktu yang singkat itu Anda bisa berfokus kepada-Nya, di mana Dia dapat memberikan kepada Anda sebuah ”perhatian dari Takhta” suatu wawasan yang Anda butuhkan pada saat itu? Tentu saja hal itu mungkin saja terjadi dibandingkan jika Anda tidak memikirkan tentang Dia, bukan?

Dan betapa hal itu sangat meneguhkan jika tinggal di dalam kasih yang Yesus perlihatkan kepada masing-masing kita melalui mati di Kayu Salib dan mempersembahkan hidup-Nya untuk kita. Betapa luar biasa untuk dikenang, di tengah kesibukan hidup dan semua tekanannya, di mana masing-masing kita adalah milik Tuhan sebagai bagian yang penting dari Tubuh-Nya, di mana Dia akan datang untuk kita, dan bahwa sementara menanti kedatangan-Nya, Dia adalah hidup kita, dan siap untuk menolong kita menjadi seperti Dia dalam dunia yang sekarat ini. Sungguh suatu sukacita untuk “menggali” Firman Tuhan yang memberi hidup dan menikmati kelimpahannya. Dengan melakukan itu akan mengingatkan kita bahwa kita dapat selalu mengambil suatu komitmen total kepada Firman melalui mengunyah, memakan dan mencerna yang mendukung kita.

“Sesuatu untuk dipikirkan” hah?

Untuk membaca lebih banyak artikel dalam Bahasa Indonesia, mohon kunjungi website Bahasa Indonesia

If you like what we are doing and you would like to help us continue to spread the Gospel all over the globe, please consider sowing into our ministry

 


Artikel lain yang luar biasa yang berkenaan dengan topik ini:

Menjadi seorang Kristen: Mengapa? Apa? Bagaimana?

Pembenaran – Pemberian dari Tuhan untuk Setiap Orang Kristen

ALL TOPICS

Home Page


 
 
About US
 
   

 
Follow us on Twitter
 
 
 

 
Optimized for iPhone
 
 
 

 
Widgets for Mac Users
 
 
 

 
Check us out on:
 
 




 

 
Truth Or Tradition Resources
 
 



Our Online Store

Books, booklet, audio & video tapes, DVDs, plus much more!

Call us toll free,
1-888-255-6189
(1-765-349-2330)
M–F 9am–5pm (ET)

Our eBay Store

Books, booklet, audio & video tapes, DVDs, plus much more!

Mail-in Order Form / Price List

Donate through PayPal

You don't need a PayPal account

 

  Related Links  
 
Articles in Bahasa


Most read article about Articles in Bahasa:
23 Argumen tentang Keabsahan Sejarah dari Kebangkitan Yesus Kristus

 

  Options  
 
 Printer Friendly Page  Printer Friendly Page

 Send to a Friend  Send to a Friend

 

           
 Home     Topics     Audio     Video       Get Code       Store   Donate     Newest     Top 30     Magazine     Tell Friends     Contact   

Untitled Document

© 2010 by Spirit & Truth Fellowship International. Spirit & Truth Fellowship International is a 501 (c) (3) non-profit corporation. Our ministry and this site are funded by faithful donors. Please contact us for more information.



Untitled Document
All scripture quotations, unless otherwise indicated, are taken from the Holy Bible New International Version(R). NIV (R). (c) 1973, 1978, 1984 by International Bible Society. Used by permission of Zondervan. All rights reserved.



Web site engine's code is Copyright © 2002 by PHP-Nuke. All Rights Reserved. PHP-Nuke is Free Software released under the GNU/GPL license.
Page Generation: 0.030 Seconds